Perayaan maulid nabi pada hakikatnya harus kita teliti dari 5 sudut pandang
1. Muhammad Rasulullah
Bahwa nabi shallallahu alahi wa salam tidak pernah merayakan kelahirannya pada hari ini, sama sekali tidak pernah selama hidupnya, tidak ada riwayat shahih bahkan dhoif sekalipun bahwa nabi shallallahu alahi wa salam melakukan perayaan hari kelahirannya pada hari ini.
2. Sahabat rasulullah
Begitu juga para sahabat nabi, abu bakar, utsman bin affan, ali bin abi thalib, alhasan, daulah umawiyah, daulah abbasiyah, tidak ada satupun riwayat dari mereka semua selamanya. Mereka manusia yang paling semangat melakukan kebaikan/amal sholeh,
3. hadist nabi
Bahwasanya nabi shallallahu alahi wa salam berkata: tidaklah aku tinggalkan kebaikan walau 1 sekalipun yang mendekatkan kalian kepada Allah dan ke syurganya melainkan telah aku perintahkan kalian untuk laksanakan, dan tidaklah aku biarkan walau 1 sekalipun yang menjauhkan kalian dari Allah dan mendekatkan kalian kepada neraka kecuali telah aku larang kalian melakukannya. Sunan al-kubro lil-baihaqi Dan hal ini (perayaan maulid) tidak pernah nabi kabarkan, kalau ini baik tentu telah beliau jelaskan hal tersebut.
4. Tanggal lahir
bahwasanya tidak diketahui secara pasti tanggal lahir nabi shallallahu alahi wa salam, sampai kapan pun itu. Siapa pun yang beranggapan bahwa di tanggal ini rasulullah dilahirkan, sesungguhnya dia tidak punya dalil sama sekali. Selamanya tidak ada sama sekali
Para ulama berselisih pendapat perihal tanggal kelahiran nabi shallallahu alahi wa salam hingga 7 atau 8 pendapat, mereka tidak tau pasti kapan nabi shallallahu alahi wa salam lahir.
Walaupun ada pendapat terbanyak bahwa nabi lahir pada tanggal 12 rabiul awal akan tetapi pendapat ini tanpa tegak diatas dalil. Hanya bersumber dari mulut ke mulut di masyarat akan tetapi dalilnya tidak valid, oleh karna itu tidak ada ulama yang memutuskan secara tegas pada tanggal 12 rabiul awal nabi dilahirkan.
5. Tanggal Wafat
Dan perkara yang lebih besar lagi bahwa para ulama sepakat pada tanggal 12 rabiul awal adalah hari wafatnya nabi shallallahu alahi wa salam, seakan-akan kita merayakan hari wafatnya nabi, wa iyazubillah.
Para pakar sejarah dan pakar hadist sepakat bahwa nabi wafat pada hari senin tanggal 12 rabiul awal, kesimpulannya adalah merayakan hari wafatnya nabi shallallahu alahi wa salam, wa iyazubillah. inilah fakta sebenarnya, merayakan kematian nabi dan seolah-olah bahagia nabi shallallahu alahi wa salam wafat, perbuatan ini hakikatnya tidak dibenarkan.
Merayakan maulid nabi pada asalnya harus ditinggalkan, barangsiapa ingin merayakan kelahiran nabi maka hendaklah dilakukan setiap hari (mengerjakan perintah, meninggalkan larangannya dan menghidupkan sunnahnya sebagaimana perayaan hari ibu, harus dijadikan hari ibu setiap hari (berbakti kepadanya).
Barangsiapa yang ingin menceritakan tentang nabi maka sampaikanlah setiap hari, setiap pekan, setiap bulan dan setiap tahun. Tidak mengkhususkan hari tertentu, bulan tertentu. Intinya perayaan maulid pada hari ini ditinggalkan (tidak dirayakan), allahu a’lam
syeikh utsman khamees
terjemah oleh Atri Yuanda elpariamany

