Telah terjadi percakapan antara adam dan musa sebagaimana dikisahkan oleh nabi Muhammad yang mulia shallallahu alahi wa salam
Nabi shallallahu alahi wa salam berkata: nabi musa protes kepada adam, dia berkata: engkau penyebab kami dan anda dikeluarkan dari syurga, kenapa anda makan buah pohon tersebut ?
Kemudian adam menjawab: wahai musa, bukankah Allah telah turunkan kepada anda taurat?
Musa menjawab: benar.
Adam berkata: tahukah anda kejadian yang saya alami telah tercatat sebelum saya diciptakan ?
Karena ini terdapat di dalam taurat dan juga al-quran
Musa menjawab: benar
Adam berkata: maka jangan mencelaku atas kejadian yang telah Allah takdirkan terhadapku
Nabi musa terdiam, lalu nabi Muhammad berkata : adam mengalahkan musa dalam berhujjah
Seseorang dibolehkan menyandarkan kepada takdir kepada musibah yang telah berlalu seperti kesalahan terhadap sesuatu, kerugian, dosa.
Lalu berkata
Akan tetapi tidak boleh beralasan dengan takdir atas perbuatan tercela, seseorang yang terus melakukan kerusakan, terus melakukan maksiat lalu berkata: Allah telah mentakdirkan aku untuk terus melakukan perbuatan tercela (kesalahan, maksiat, dosa dll) ini.
Ini ucapan dusta, seseorang tidak tahu perkara qaib tentang takdir yang akan terjadi
Takdir Allah bersifat gaib, maka tidak sepantasnya seseorang menyandarkan kepada takdir atas perbuatan tercela yang dia terus lakukan. Perbuatan ini tidak dibolehkan.
Namun yang benar adalah menyandarkan kepada takdir atas perbuatan/kejadian/musibah yang telah berlalu lalu dia menyesali dan bertaubat,atau bersabar atasnya dan segala keadaan yang telah terjadi.
bagaimanapun, menyandarkan kepada musibah yang telah terjadi dibolehkan namun bukan perbuatan tercela yang terus dilakukan
diterjemahkan oleh Atri Yuanda Elpariamany

