Dengan ini semakin kita mengenali dan menyadarinya, semakin kita berusaha senantiasa menghindarinya. Ibnu qoyyim telah merangkum dan menyebutkan beberapa pengaruh dosa dan maksiat dalam beberapa bukunya, seperti yang terdapat dalam kitabnya Ad-Daa’u wad Dawaa’u. Disebutkan didalamnya pengaruh-pengaruh maksiat dan dosa, diantaranya:
- Sulit memperoleh ilmu.
- Sulit rezeki.
- Susah beribadah.
- Memperlemah tubuh dan merusak hati.
- Dapat memperpendek usia dan menghilangkan berkah.
- Kemaksiatan melahirkan maksiat baru sehingga berat untuk ditinggalkan.
- Dapat mengikis tekad dan semangat bertaubat, sedikit demi sedikit.
- Menyebabkan seseorang menjadi hina di hadapan Allah ta’ala.
- Efek sial maksiat pelaku berdampak kepada binatang dan orang lain.
- Dosa semakin ringan bagi pelaku jika dilakukan terus menerus.
- Dapat merusak akal dan menurunkan tingkat kecerdasan.
- Semakin bertumpuknya dosa yang terpatri dalam hati pelaku yang akan menjadikannya orang yang lalai.
- Penyebab timbulnya kerusakan di darat, lautan, sawah, ladang, perkebunan buah dan tempat-tempat tinggal.
- Hilangnya rasa malu yang merupakan materi penyubur hati.
- Memperlemah kemauan hati untuk senantiasa mengagungkan Allah ta’ala.
- Menyebabkan Allah ta’ala melupakan si hamba dan menjadi santapan syaitan yang mana merupakan awal dari sebuah kebinasaan.
- Mengeluarkan seorang hamba dari lingkungan nilai-nilai kebajikan dan menghalangi dirinya memperoleh pahala orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan.
- Dapat melenyabkan berbagai kenikmatan dan mengundang berbagai bencana.
- Dapat menimbulkan kegersangan yang amat sangat dalam hati pelakunya.
- Dapat membuat hati tidak sehat dan tidak terarah menjadi sakit dan cenderung nyeleneh.
- Dapat membutakan mata hati dan melenyabkan cahaya batin.
- Penyebab runtuhnya derajat dan martabat seorang hamba dihadapan Allah ta’ala.
- Dapat mengotori nama baik dan kemulian seseorang.
- Dapat memutuskan hubungan antara hamba dengan Rabbnya, jika terputus maka tidak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan.
- Dapat melenyabkan berkah usia, rezeki, ilmu, amal dan ibadah (melenyabkan berkah hidu didunia apalagi di akhirat).
- Dapat menyebabkan pelaku lupa diri.
- Melenyabkan kenikmatan yang sedang dinikmati oleh seorang hamba dan menghalangi datangnya kenikmatan selanjutnya.
- Menyebabkan hati seseorang selalu dipenuhi rasa was-was, cemas dan kegelisahan. Hidupnya akan dihantui perasaan bersalah sehingga kenikmatan apapun menjadi hambar rasanya.
Sumber kutipan : buku Aku Bukan Ahli maksiat karangan Abu Umar Basyier

