jika direnungkan rekam perjalanan hidup nabi muhammad maka didapati di dalamnya penuh dengan kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang membangkitkan jiwa untuk rindu segera bertemu Rasulullah shallalahu alahi wa salam dan perasaan begitu bahagianya para sahabat bertemu langsung nabi dan mereka tahu apa yang dilakukan nabi dan mendapatkan terangnya cahaya hidayah yang dibawa nabi.
dan dari banyaknya pengamatan yang membuatku berhenti sejenak selama menelusuri luasnya perjalanan hidup rasulullah shallalahu alahi wa salam: yaitu banyaknya situasi yang membuat air mati rasulullah mengalir.
sungguh telah menangis nabi shallallahu alahi wa salam penuh rasa takut dan cemas kepada Allah, sebagaimana dalam hadist riwayat tirmidzi dari abdullah ibnu assyikhkhiry, dia berkata: aku menemui rasulullah shallallahu alahi wa salam disaat beliau sedang sholat dan dari dalam dadanya suara nafas yang mendesih (suara yang tidak beraturan) seperti suara mendidihnya cerek air dikarenakan beliau sedang menangis.
dan tetesan air mata tersebut bentuk kecintaan dan rindu, sebagaimana perihal berita kematian zaid bin haritsah dalam riwayat ibnu hajar di kitab al-ishobah, nabi shallallahu alahi wa salam berkata: ini kerinduaan seseorang yang mencintai kepada yang dia cintai
sebagimana bercucurnya air mata rasulullah dekat kubur ibunya, anak cewek nabi ummu kultsum dan ketika nabi melihat kalung khadijah radhiallahu anha yang telah wafat dan banyak kejadian sedih lainnya yang dihadapi nabi shallallahu alahi wa salam
adapun pilihan persinggahan perjalan hidup nabi yang telah aku lewati sebelumnya untuk dipelajari di tulisan ini mengenai menangisnya rasulullah shallallahu alahi wa salam perihal wafat anaknya ibrahim, ini saya baca dari buku berjudul muhammad rasulullah shallallahu alaihi wa salam yang ditulis oleh muhammad ridho, dan ini sangat menyentuhku setelah mempelajari kejadian dari 2 sudut pandang : kelembutan perasaan dan keyakinan
dari anas ibnu malik radhiallahu anhu dia berkata: aku bersama rasulullah shallallahu alahi wa salam berkunjung ke rumah abu saif al-khain, ketika itu ibrahim anak nabi masih menyusu dengan istrinya abu saif lalu nabi memeluknya dan menciumnya, kemudian kami berkunjung kembali setelah wafatnya ibrahim, lalu air mata nabi muhammad mengalir (mengingat kenangan) maka abdurrahman ibnu auf berkata: dan kamu (heran) wahai rasulullah ? maka nabi menjawab: sesungguhnya mata telah menangis dan hati pun sedih, dan tidaklah kita (nabi) berkata kecuali apa yang diridhoi Allah dan kita sedih atas perpisahan (sementara) atasmu wahai ibrahim.
ketika itu pada bulan rabiul awal tahun 10 hijriah, usia ibrahim masih 16 bulan (1 tahun 4 bulan)
sungguh nabi shallallahu alahi wa salam terkejut (sedih) atas kepergian anaknya ibrahim sebagaimana wafatnya semua anak nabi yang lain kecuali fatimah radhiallahu anha, dan sesungguhnya ini merupakan musibah berat yang dihadapi manusia di dunia fana ini, tidak ada musibah yang lebih berat dihadapi seseorang selain dari kehilangan anak. nabi menghadapi musibah ini dengan keyakinan, sabar dan ridho terhadap takdir Allah pemilik alam semesta, kesabaran nabi atas perpisahan dari anaknya sebanding dengan menghadapi semua kesulitan dunia, beliau tidak pernah didapati sepanjang perjalanan hidupnya berlebihan menyikapi kesedihannya, ini sangat membekas pada dirinya.
semua kejadian dialami nabi membuka tabir kepribadian/watak nabi muhammad shallallahu alahi wa salam yang menunjukkan kecapakan/keunggulan nabi diatas kepribadian dari makhluk lainnya oleh karnanya dia layak memperoleh kasih sayang.
dan dari sisi lain dalam riwayat anas radhiallahu anhu dengan sanad shahih, dia berkata: seandainya ibrahim anak nabi shallallahu alahi wa salam hidup maka dia orangnya jujur dan seorang nabi.
sebagaimana dalam riwayat bukhari di shahihnya dari jalan ismail ibnu abi khalid berkata: aku berkata kepada anak abu aufa: apakah engkau bertemu ibrahim anak nabi ? dia berkata: dia wafat ketika masih kecil, seandainya ditakdirkan setelah nabi muhammad seorang nabi tentu anaknya tetap hidup akan tetapi tidak ada nabi setelahnya (muhammad)
maka apakah hikmah dari wafatnya ibrahim adalah menjaga umat dari fitnah (ujian jika dia hidup) setelah wafatnya nabi muhammad ?
dan sungguh telah terjadi perkara yang menyesatkan padahal nabi masih hidup ketika gerhana matahari pada hari wafatnya ibrahim: lalu manusia berkata: telah terjadi gerhana dikarenakan wafatnya ibrahim, lalu rasulullah shallallahu alahi wa salam berkata: sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena mati atau hidup (lahirnya) seseorang.
dan apakah alasan dari wafatnya ibrahim terdapat hikmah yang berkaitan dengan kerasulan dan maslahat untuk umat; jika ibrahim hidup maka akan tersebar diantara manusia (dia nabi setelah muhammad)
dan apakah benar bahwa rahasia dibalik wafatnya ibrahim jika seandainya dia hidup akan menjadi nabi ? maka allah berkehendak memutus perkara yang menimbulkan keraguan atas mewarisi kenabian dengan cara mematikan anak nabi.
seandainya mengharuskan kita diskusi maka cukuplah kita simak perkataan Allah azza wa jalla : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu [5], tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. QS. al-ahzab: 40
maka ini adalah ayat sebagaimana disebutkan oleh ibnu katsir dalam tafsirnya: dalil ini menunjukkan bahwasanya tidak ada nabi setelah muhammad.
apakah sebelumnya nabi shallallahu alahi wa salam tahu bahwasanya ibrahim akan diwafatkan Allah sebelum usianya beranjak dewasa, sebagaimana membenarkan perkataan Allah ta’ala: [Dia adalah Tuhan] Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. (26) Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga [malaikat] di muka dan di belakangnya. (27) surat al-jin
footnote
- asyamail almuhammadiyah 308
- al-ishobah 4/316
- shahih bukhari 1303
- musnad imam ahmad 19/359
- shahih bukhari 6195
- shahih bukhari 996
source: alukah.net

